Kepadatan populasi dan keterbatasan lahan di kawasan metropolitan telah menciptakan tantangan signifikan terhadap pasokan makanan yang stabil dan berkelanjutan. Di tengah isu perubahan iklim dan gangguan rantai pasok, inovasi dalam bidang pertanian perkotaan (urban farming) muncul sebagai Solusi Ketahanan Pangan yang efektif dan resilien (tangguh). Dua metode utama—hidroponik dan vertikultur—memungkinkan masyarakat kota untuk memproduksi sayuran dan buah-buahan segar secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar kota. Pendekatan ini tidak hanya mengoptimalkan penggunaan lahan terbatas tetapi juga meminimalkan jarak tempuh makanan (food miles), sehingga menjamin kesegaran dan mengurangi emisi karbon.
Hidroponik, sebagai komponen utama Solusi Ketahanan Pangan perkotaan, menawarkan efisiensi air yang jauh lebih tinggi dibandingkan pertanian konvensional. Dalam sistem ini, tanaman ditumbuhkan menggunakan larutan nutrisi berbasis air, tanpa memerlukan media tanah. Teknik ini dapat menghemat air hingga 90% dan memungkinkan budidaya di dalam ruangan atau di atap gedung. Di Jakarta Selatan, sebuah komunitas urban farming yang didukung oleh Dinas Ketahanan Pangan pada bulan April 2025 berhasil memanen 500 kilogram sayuran berdaun hijau dalam sebulan dari lahan vertikal seluas 100 meter persegi. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa produktivitas dapat ditingkatkan secara vertikal, mengatasi kendala horizontal di perkotaan.
Selain hidroponik, urban farming juga berperan sebagai Solusi Ketahanan Pangan dengan memberdayakan komunitas. Kebun-kebun komunal yang dikelola oleh Rukun Warga (RW) tidak hanya menghasilkan produk pangan, tetapi juga memperkuat kohesi sosial dan meningkatkan kesadaran lingkungan. Pemerintah, melalui Kementerian Pertanian (Kementan), pada tanggal 12 Juni 2025, mengalokasikan bantuan bibit dan instalasi dasar hidroponik kepada 200 kelompok tani perkotaan baru di seluruh Jawa dan Sumatera. Bantuan ini bertujuan untuk mendemokratisasi akses terhadap teknologi pertanian modern.
Meskipun memiliki potensi besar, keberlanjutan Solusi Ketahanan Pangan ini memerlukan dukungan regulasi dan teknologi. Diperlukan kepastian hukum terkait penggunaan ruang terbuka publik untuk pertanian dan akses mudah terhadap teknologi smart farming yang berbasis Internet of Things (IoT). Konsistensi pasokan listrik dan kestabilan suhu dalam sistem hidroponik adalah tantangan teknis yang harus diatasi. Dengan kombinasi inovasi teknologi, dukungan finansial untuk petani perkotaan, dan kesadaran masyarakat yang tinggi, hidroponik dan urban farming akan menjadi kunci untuk mencapai kemandirian pangan di tengah keterbatasan lahan perkotaan.
